Audifax
Penulis buku “Imagining Lara Croft” (2006, Jalasutra) dan “Semiotika Tuhan” (2007, Pinus Book)
“Gelap mengendap di mana mata pernah terang”
Homer
--Iliad--
Iliad adalah salah satu epos Homerus yang keindahannya melampaui jaman. Epos yang menceritakan perang troya ini tak hanya terus-menerus diceritakan, namun juga sudah beberapa kali difilmkan. Barangkali salah satu adegan tak terlupakan dalam Troy (2004) adalah ketika Hector, pangeran Troya, tegak berdiri di depan pintu gerbang kerajaannya, menjelang saat ia mesti keluar menyambut Achilles, Sang-Singa-di-ambang-pintu. Beberapa langkah di belakang Hector, berdiri orang terakhir yang mengucap selamat tinggal padanya. Bukan Andromache, istrinya. Bukan pula Paris, adiknya, si pengecut yang menyebabkan kakaknya menatap maut dengan menyangga beban seluruh Troya di pundaknya. Orang itu adalah Helena, “Sang Kecantikan yang meluncurkan seribu kapal”.
Mata indah Helena sembab menatap Hector. Saat mengucap selamat tinggal, Helena sempat mengucap:
“Kau menyayangi sesama manusia lebih dari siapapun juga, dan itu semua demi aku, meski aku tak ubahnya seekor anjing betina, buah kekonyolan Aleksandros (nama lain Paris). Zeus telah melimpahkan cobaan paling berat pada kita, namun cobaan ini juga yang akan menjadikan kita puisi pembicaraan orang di masa depan”
Hector tahu ia akan mati dalam pertarungannya dengan Achilles. Demi apa? Perempuan? Kehormatan? Persaudaraan? Tanah Air? Nasionalisme? Tak ada itu semua. Hanya ada dua ksatria bertarung: Hector dan Achilles. Selama pertarungan itu tak ada siapa benar, siapa salah, siapa lebih berhak, siapa lebih berdosa. Distingsi tersebut tak ada; yang ada hanya manusia sebagai mahkluk yang menderita serta ksatria yang bertarung. Mereka memang harus bertarung karena mereka ksatria, bukan pecundang.
Tak ada apa-apa dalam pertarungan ksatria mereka. Penderitaan dan rasa kehilangan telah melucuti Hector. Ia tak punya apa-apa lagi kecuali dirinya. Ia adalah satu di antara putra-putra Priam. Ia berdiri sendiri. Sang pangeran yang lahir untuk memimpin dan menatap ke depan. Ia bukan manusia-istimewa, manusia-aneh, manusia-unggul, setengah-dewa atau menyerupai-tuhan. Ia hanya manusia dan pangeran di antara manusia. Manusia yang menatap melampaui manusianya yang sejatinya fana. Pangeran kehidupan yang sarat kemurahan hati. Banyak yang harus ditanggungnya dalam hidupnya, dan ia tidak lari. Ia adalah kesayangan Apollo. Pelindung Troya. Pembela kota, istri dan anak-anaknya. Hector adalah wali segala suka cita hidup yang bakal lenyap.
Sedangkan Achilles, ia adalah putra Thetis, peri laut. Oleh ‘kekuatan’ ia dijadikan setengah-dewa namun oleh ‘kekerasan’ ia dijadikan setengah-binatang. Perpaduan inilah yang membuat Achilles membumi. Menjelang berangkat ke Troya, Achilles menemui Thetis ibunya. Sang ibu berkata padanya:
Jika kau tinggal di Larissa, kau akan temukan kedamaian. Kau akan menemukan perempuan cantik, memiliki putra dan putri darinya. Istri dan anakmu akan menyayangimu dan mengingat namamu. Tapi ketika anak dan keturunanmu telah mati, namamu juga akan terlupakan…..Jika kau berangkat ke Troya, kejayaan akan menjadi milikmu. Mereka akan terus-menerus menuliskan kisah kemenanganmu selama ribuan tahun! Dan dunia tak akan melupakan namamu. Namun, jika kau berangkat ke Troya, kau tak akan pernah kembali…karena kemuliaanmu bergandeng-tangan dengan maut yang menjemputmu. Dan ibu tak akan pernah melihatmu lagi.
Seperti Neo (dalam Matrix, 1999) yang memilih pil merah, Achilles memilih berangkat ke Troya. Satu perkataan terkenal Achilles pada ibunya (dalam Iliad): “Betapapun cinta ibu padaku, jangan jauhkan aku dari perangku”.
Peperangan sebenarnya adalah kesejatian dari ketakpastian dunia. Peperangan tak mesti secara an sich dipahami sebagai pertempuran ala Troya ataupun Perang Dunia, namun juga peperangan dalam ketakpastian hidup masing-masing. Ketika menginginkan sesuatu, orang mesti berjuang mendapatkannya, tak jarang mesti bertarung dengan orang lain karena keterbatasan kesempatan untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Nah, dalam pertarungan-pertarungan inilah esensi ksatria seperti yang ditunjukkan Hector dan Achilles bisa kita pahami.
Masing-masing manusia bisa menjadi ksatria dalam perangnya masing-masing. Namun, tak tertutup pula kesempatan menjadi pecundang yang lari terbirit-birit dari pertempurannya. Apa sebenarnya pertempuran masing-masing manusia? Untuk menjelaskan ini, saya perlu kembali lagi ke kisah pertarungan Hector dan Achilles. Mereka bertarung, karena arete mereka memang mengharuskan mereka untuk menuju kancah pertarungan itu. Hanya ada diri mereka di situ dan arete mereka
ARETE
Apa itu arete? Arete adalah sebuah kata dalam kosa kata Yunani yang secara sederhana bisa saya terjemahkan sebagai keutamaan. Keutamaan yang bagaimana? Saya akan contohkan dengan sesuatu yang sederhana. Bayangkan sebuah gunting kecil lipat untuk memotong kertas. Gunting itu memiliki arete untuk memotong kertas. Itulah keutamaannya. Apakah tidak bisa untuk memotong rumput atau buka tutup botol? Ya bisa saja kalau dipaksa. Tapi membutuhkan energi lebih jika dipakai untuk memotong rumput atau membuka tutup botol. Energi minimal yang paling sesuai (keutamaan) dari gunting kecil lipat itu adalah memotong kertas atau hal-hal yang masih dalam jangkauan energi minimalnya.
Demikian juga dengan manusia. Orang mungkin heran bagaimana seorang Thomas Alfa Edison melakukan percobaan ribuan kali dan baru pada percobaan kesekian ribu ia bisa menemukan lampu. Tapi itulah arete-nya. Ia menikmati karena di situlah energi minimalnya. Sama dengan arete seorang penulis yang mungkin bisa menulis dengan mudah, ini karena ia memiliki energi minimalnya di situ. Dan di situlah sebenarnya ‘panggilan’ untuk pertempurannya.
Masalah timbul ketika orang tidak mencari arete-nya sendiri, namun berusaha menjadi orang lain. Masalah makin pelik ketika ia gagal menjadi orang lain yang diinginkannya karena memang ia tak memiliki keutamaan seperti orang yang diinginkannya itu. Masalah menjadi makin parah ketika dalam kegagalan itu ia justru menjelekkan orang lain yang sebenarnya diingininya itu. Orang-orang inilah manusia-manusia dekaden yang tak mampu melihat dirinya sendiri dan menanggung apa yang memang mesti ditanggungnya.
POSKRIP
Pada titik inilah kita bisa belajar dari Hector, dari Achilles, yang tak menyalahkan hidup yang mesti ditanggungnya. Manusia-manusia ini tak berani berangkat ke medan perangnya masing-masing dan memilih bersembunyi di kolong tempat tidurnya. Mereka tak berusaha menemukan arete-nya dan berangkat ke medan perangnya sebagai ksatria, namun memilih menjadi pecundang, bersembunyi di kolong tempat tidurnya, sambil menatap iri pada orang lain.
Peperangan yang timbul dari ketakpastian, adalah sebuah transformasi. Menghadapi dan menjalani transformasi itu, memang membutuhkan keksatriaan tersendiri. Keksatriaan ketika berhadapan dengan pilihan-pilihan yang mesti diputuskan. Dalam keputusan itulah tercermin siapa sebenarnya diri kita. It is our choice that show what we truly are, far from our abilities.
© Audifax – 20 Juni 2007
“Gelap mengendap di mana mata pernah terang”
Homer
--Iliad--
Iliad adalah salah satu epos Homerus yang keindahannya melampaui jaman. Epos yang menceritakan perang troya ini tak hanya terus-menerus diceritakan, namun juga sudah beberapa kali difilmkan. Barangkali salah satu adegan tak terlupakan dalam Troy (2004) adalah ketika Hector, pangeran Troya, tegak berdiri di depan pintu gerbang kerajaannya, menjelang saat ia mesti keluar menyambut Achilles, Sang-Singa-di-ambang-pintu. Beberapa langkah di belakang Hector, berdiri orang terakhir yang mengucap selamat tinggal padanya. Bukan Andromache, istrinya. Bukan pula Paris, adiknya, si pengecut yang menyebabkan kakaknya menatap maut dengan menyangga beban seluruh Troya di pundaknya. Orang itu adalah Helena, “Sang Kecantikan yang meluncurkan seribu kapal”.
Mata indah Helena sembab menatap Hector. Saat mengucap selamat tinggal, Helena sempat mengucap:
“Kau menyayangi sesama manusia lebih dari siapapun juga, dan itu semua demi aku, meski aku tak ubahnya seekor anjing betina, buah kekonyolan Aleksandros (nama lain Paris). Zeus telah melimpahkan cobaan paling berat pada kita, namun cobaan ini juga yang akan menjadikan kita puisi pembicaraan orang di masa depan”
Hector tahu ia akan mati dalam pertarungannya dengan Achilles. Demi apa? Perempuan? Kehormatan? Persaudaraan? Tanah Air? Nasionalisme? Tak ada itu semua. Hanya ada dua ksatria bertarung: Hector dan Achilles. Selama pertarungan itu tak ada siapa benar, siapa salah, siapa lebih berhak, siapa lebih berdosa. Distingsi tersebut tak ada; yang ada hanya manusia sebagai mahkluk yang menderita serta ksatria yang bertarung. Mereka memang harus bertarung karena mereka ksatria, bukan pecundang.
Tak ada apa-apa dalam pertarungan ksatria mereka. Penderitaan dan rasa kehilangan telah melucuti Hector. Ia tak punya apa-apa lagi kecuali dirinya. Ia adalah satu di antara putra-putra Priam. Ia berdiri sendiri. Sang pangeran yang lahir untuk memimpin dan menatap ke depan. Ia bukan manusia-istimewa, manusia-aneh, manusia-unggul, setengah-dewa atau menyerupai-tuhan. Ia hanya manusia dan pangeran di antara manusia. Manusia yang menatap melampaui manusianya yang sejatinya fana. Pangeran kehidupan yang sarat kemurahan hati. Banyak yang harus ditanggungnya dalam hidupnya, dan ia tidak lari. Ia adalah kesayangan Apollo. Pelindung Troya. Pembela kota, istri dan anak-anaknya. Hector adalah wali segala suka cita hidup yang bakal lenyap.
Sedangkan Achilles, ia adalah putra Thetis, peri laut. Oleh ‘kekuatan’ ia dijadikan setengah-dewa namun oleh ‘kekerasan’ ia dijadikan setengah-binatang. Perpaduan inilah yang membuat Achilles membumi. Menjelang berangkat ke Troya, Achilles menemui Thetis ibunya. Sang ibu berkata padanya:
Jika kau tinggal di Larissa, kau akan temukan kedamaian. Kau akan menemukan perempuan cantik, memiliki putra dan putri darinya. Istri dan anakmu akan menyayangimu dan mengingat namamu. Tapi ketika anak dan keturunanmu telah mati, namamu juga akan terlupakan…..Jika kau berangkat ke Troya, kejayaan akan menjadi milikmu. Mereka akan terus-menerus menuliskan kisah kemenanganmu selama ribuan tahun! Dan dunia tak akan melupakan namamu. Namun, jika kau berangkat ke Troya, kau tak akan pernah kembali…karena kemuliaanmu bergandeng-tangan dengan maut yang menjemputmu. Dan ibu tak akan pernah melihatmu lagi.
Seperti Neo (dalam Matrix, 1999) yang memilih pil merah, Achilles memilih berangkat ke Troya. Satu perkataan terkenal Achilles pada ibunya (dalam Iliad): “Betapapun cinta ibu padaku, jangan jauhkan aku dari perangku”.
Peperangan sebenarnya adalah kesejatian dari ketakpastian dunia. Peperangan tak mesti secara an sich dipahami sebagai pertempuran ala Troya ataupun Perang Dunia, namun juga peperangan dalam ketakpastian hidup masing-masing. Ketika menginginkan sesuatu, orang mesti berjuang mendapatkannya, tak jarang mesti bertarung dengan orang lain karena keterbatasan kesempatan untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Nah, dalam pertarungan-pertarungan inilah esensi ksatria seperti yang ditunjukkan Hector dan Achilles bisa kita pahami.
Masing-masing manusia bisa menjadi ksatria dalam perangnya masing-masing. Namun, tak tertutup pula kesempatan menjadi pecundang yang lari terbirit-birit dari pertempurannya. Apa sebenarnya pertempuran masing-masing manusia? Untuk menjelaskan ini, saya perlu kembali lagi ke kisah pertarungan Hector dan Achilles. Mereka bertarung, karena arete mereka memang mengharuskan mereka untuk menuju kancah pertarungan itu. Hanya ada diri mereka di situ dan arete mereka
ARETE
Apa itu arete? Arete adalah sebuah kata dalam kosa kata Yunani yang secara sederhana bisa saya terjemahkan sebagai keutamaan. Keutamaan yang bagaimana? Saya akan contohkan dengan sesuatu yang sederhana. Bayangkan sebuah gunting kecil lipat untuk memotong kertas. Gunting itu memiliki arete untuk memotong kertas. Itulah keutamaannya. Apakah tidak bisa untuk memotong rumput atau buka tutup botol? Ya bisa saja kalau dipaksa. Tapi membutuhkan energi lebih jika dipakai untuk memotong rumput atau membuka tutup botol. Energi minimal yang paling sesuai (keutamaan) dari gunting kecil lipat itu adalah memotong kertas atau hal-hal yang masih dalam jangkauan energi minimalnya.
Demikian juga dengan manusia. Orang mungkin heran bagaimana seorang Thomas Alfa Edison melakukan percobaan ribuan kali dan baru pada percobaan kesekian ribu ia bisa menemukan lampu. Tapi itulah arete-nya. Ia menikmati karena di situlah energi minimalnya. Sama dengan arete seorang penulis yang mungkin bisa menulis dengan mudah, ini karena ia memiliki energi minimalnya di situ. Dan di situlah sebenarnya ‘panggilan’ untuk pertempurannya.
Masalah timbul ketika orang tidak mencari arete-nya sendiri, namun berusaha menjadi orang lain. Masalah makin pelik ketika ia gagal menjadi orang lain yang diinginkannya karena memang ia tak memiliki keutamaan seperti orang yang diinginkannya itu. Masalah menjadi makin parah ketika dalam kegagalan itu ia justru menjelekkan orang lain yang sebenarnya diingininya itu. Orang-orang inilah manusia-manusia dekaden yang tak mampu melihat dirinya sendiri dan menanggung apa yang memang mesti ditanggungnya.
POSKRIP
Pada titik inilah kita bisa belajar dari Hector, dari Achilles, yang tak menyalahkan hidup yang mesti ditanggungnya. Manusia-manusia ini tak berani berangkat ke medan perangnya masing-masing dan memilih bersembunyi di kolong tempat tidurnya. Mereka tak berusaha menemukan arete-nya dan berangkat ke medan perangnya sebagai ksatria, namun memilih menjadi pecundang, bersembunyi di kolong tempat tidurnya, sambil menatap iri pada orang lain.
Peperangan yang timbul dari ketakpastian, adalah sebuah transformasi. Menghadapi dan menjalani transformasi itu, memang membutuhkan keksatriaan tersendiri. Keksatriaan ketika berhadapan dengan pilihan-pilihan yang mesti diputuskan. Dalam keputusan itulah tercermin siapa sebenarnya diri kita. It is our choice that show what we truly are, far from our abilities.
© Audifax – 20 Juni 2007
- disadur dari milist jambore_kebudayaan@yahoogroups.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar