Senin, 06 Agustus 2007

the baMBoes

  1. Komunitas Musik Sampah Anak Jalanan


    Ide dasar.
    Bamboes di ambil dari kata bambu yang ditafsirkan sebagai tumbuhan multi fungsi, selain itu tumbuh di mana saja dan selalu bergerombol. Untuk itu bambu di umpamakan adalah anak-anak Indonesia khususnya anak-anak yang termarjinalkan (terpinggirkan) memiliki potensi berani, jujur, pekerja keras, kreatif dan inovatif. Hidup bergerombol adalah budaya sosial manusia, sudah tentu terjadi di dunia anak-anak. Walaupun kehidupan sosial bergerombol, tetap saja yang dialami dan dinikmati tidak berbeda. Untuk itu baMBoes membangun solidaritas tak terbatas untuk dapat menyatukan kehidupan yang bergerombol, setidaknya pola hidup setara dan tidak dibeda-bedakan dan tidak membeda-bedakan.

    Deklarasi
    Di deklarasikan di taman bunga stadion Teladan – Medan, pada tanggal 23 Juli 1995, tepat seusai pementasan perdana anak-anak jalanan dampingan Yayasan KKSP (sebuah LSM yang konsern terhadap pendidikan anak-anak yang termarginalkan ) dan anak-anak remaja mesjid jl. Pimpong kel. Pasar Merah Barat di Gedung Wanita Karo -. Deklaratornya adalah Alley atmawidjaya (alley), Armansyah Putra Barus (BIAR), Alm.Muslim Panjaitan (alm, Boy Dzakirov), Ronald, Rudi Supriono (rudi gondrong), Roni Manalu, Fefry Amrianto (piye).

    Music
    BaMBoes tetap konsern menggunakan musik sebagai media kampanye untuk menyuarakan celoteh-celoteh sosial, khususnya celoteh-celoteh tentang kehidupan social anak. Musicnya beraliran apa saja, genre satu musik tidak terlalu dipusingkan. Saat ini ciri musiknya lebih cendrung kepada balada akustik dan yang terpenting dari bermusik tersebut adalah asal pesan-pesan social dan moralnya nyampe.

    Alat music
    Alatnya adalah benda-benda sederhana dan gampang untuk dapat di temukan baik di jalanan, di rumah, di sungai-sungai bahkan di tempat pembuangan sampah. Alat-alat eksperiment tersebut digabungkan dengan beberapa alat musik konvensional untuk dapat menyelaraskan ritme musik yang harmonis dan dinamis.

    Syair
    Syairnya menyentuh dari kejenuhan hidup di kota, geram pada peperangan, sedih atas ketidak adilan hukum, marah pada orang tua yang tidak serius mengurus anaknya sendiri, benci pada budaya timur yang mulai berganti pada budaya serba barat, teriris ketika mengetahui anak-anak menjadi korban perang dan korban kebiadaban para penjual anak untuk kepentingan dan kepuasan orang dewasa, pesimis melihat ruang publik yang tidak partisipatif terhadap anak-anak, tak bisa apa-apa untuk bisa mengenyam pendidikan karena biaya pendidikan begitu mahalnya, senang karena bisa belajar merencanakan kehidupan, bahagia dapat belajar dari alam raya, terpingkal-pingkal melihat tingkah laku dedek canang (tokoh dalam lagu), bebas dapat menghirup alam pedesaan.
    Kesemua itu tercipta dari apa yang dirasakan, apa yang dilihat dan apa yang di dengar.

    Personil.
    Sekarang (1998 – 2005) terdiri dari anak-anak jalanan dengan jumlah yang tidak terbatas. Hari ini bisa berjumlah 12 orang, besok-besok bisa berjumlah 5 orang. Bamboes seperti cinta, “datang dan pergi sesuka hati dengan mengikuti ruang dan waktu”. Formasi the baMBoes saat ini adalah;

    1. Rahmat syah lubis (Ame’ kibo) memaenkan lead gitar melody, backing vocal.
    2. Dani syah Putra (lepes) memaenkan gitar rhythm, backing vocal.
    3. David Ade Pandiangan (david kribo) memaenkan perkusi drum pecah, biola gergaji, backing vocal.
    4. Leo Bonardo (Leo) memaenkan perkusi aqua gallon
    5. Eko Alberto Manurung memaenkan harmonica, gamelan botol vodka, perkusi kecil (kaleng-6. kaleng dll)
    7. Yogi Sutrisno (yogi) memaenkan perkusi bass jimbe
    8. Armansyah Putra Barus memaenkan alat tiup; seruling, saluang, decap-decap plastic, backing vocal.
    9. Ranto Alamsyah Situmorang memaenkan perkusi jimbe rhythm, backing vocal.
    10. alley atmawidjaya (alley) memaenkan gitar, besi-besi, dan menyanyi
    11. Usman Jalani Tanjung (grogol) memaenkan tamborin dan kaleng-kaleng.
    12. Lesman simbolon memaenkan cabasa beras.

    Additional players (dijadikan pemain tambahan karena terkadang berada bersama kita – the baMBoes -, terkadang tak terlihat batang hidungnya).
    1. Ade (adek tomboy) – menyanyi
    2. Putra chaniago (putra) – maen gitar sama menyanyi
    3. Irwan azhari (iwan tungir)– menyanyi
    4. Deni syahputra (deni) – memaenkan perkusi
    5. Ganda (ganda) - maen cabasa beras
    6. Dedek suryadi (dedek canang) – memaenkan perkusi.

    Pementasan dan Penghargaan
    Untuk pementasan, baMBoes tidak pernah mengeksklusifkan dirinya, bisa mentas di mana saja selama pementasan tersebut dapat menyampaikan pesan-pesan sosial yang sudah mendarah daging ditubuhnya. Dimanapun bamboes melakukan pementasan disitulah sebenarnya penghargaan yang dirasakan.
    the baMBoes mendapatkan penghargaan-penghargaan berupa piagam (sertifikat) dari beberapa pementasan yang dilakukan seperti :
  2. Pekan kreatifitas Anak Teraniaya – 15 s/d 19 Juli 2000, Banda Aceh
  3. Penghargaan Gubernur Sumatera Utara, T. Rizal Nurdin pada Pelaksanaan Gelar Teknologi Tepat Guna Nasional ke IV & Lomba Karya Inovasi teknologi (INOTEK), 24 s/d 28 September 2002, Medan – Sumatera Utara.
  4. Satgas Brigade Kartini DPD AMPI Tingkat II – Kota Medan, pada lomba busana kartini dan musikalisasi Kreatifitas Anak Jalanan, 18 s/d 20 April 2003.
  5. Himpunan Mahasiswa Mesin – BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Fakultas tekhnik UMSU –26 April 2003 Juara Favorite pada GEBYAR MUSIK di Medan.
  6. Pemerintah Daerah Sumatera Utara – Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Sumatera Utara (BAPELDASU) dalam Lomba lagu-lagu lingkungan hidup, 26 November 2004 di Gedung Pertunjukan Pekan Raya Sumatera Utara, Medan.
  7. Yayasan KKSP dalam memeriahkan Ulang Tahunnya yang ke 20 tahun, 7 Februari 2007. di Gedung Auditorium USU- Medan.
  8. Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik USU, dalam seminar “Fenomena Gelandangan – Pengemis di Tengah Kota Medan Menuju Metropolitan”, 8 mei 2007 di Lab. Pariwisata USU, Medan.
  9. ULTAH Surat Kabar PORTIBI
  10. 10. Dies Natalist FISIP USU
Selain mendapatkan sertifikat dalam pementasannya bamboes juga pernah mengikuti beberapa festival-festival musik. Dari beberapa festival musik tersebut the baMBoes mengumpulkan beberapa piala-piala. Piala-piala tersebut adalah hasil kerja keras keharmonisan pemainnya. Posisi peringkat satu sampai hanya sebatas juara favorite di dapatkan.
Pementasan-pementasan bamboes tidak hanya berada dikepulauan sumatera, tetapi juga sudah merambah ke Pulau jawa khususnya Yogyakarta pada acara workshop jambore musik rakyat merdeka.

Karya dan first album
the baMboes melakukan track record untuk album perdana yang bertajuk “Suara – Suara Merdeka” dan sekarang masih dalam proses mixing di Canada. Rencananya akan di pasarkan di Canada dan Indonesia.


Lagu dan Makna
o) Nanam Rame-rame (mengajak manusia di bumi ini untuk menanam tumbuhan agar tidak terjadi pemanasan Global, dan filosofi lagu ini mengajari anak-anak untuk merencanakan kehidupannya lewat penanaman tumbuh-tumbuhan).

o) Hujan (menceritakan tentang rendahnya kepedulian pemerintah terhadap kampung-kampung kumuh yang rawan banjir juga penanganan banjir di jalan raya juga yang tidak serius)

o) Alam Desa (Kejenuhan setiap hari memandang kenderaan yang berlalu lalang, selalu bertarung dengan kekejaman kota dapat terobati dengan berjalan-jalan ke pedesaan, terasa lebih segar, sejuk, damai satu yang terpenting makanan banyak)

o) Ceplos (sesak didada tak dapat di tahan melihat fenomena jalanan, akhirnya di tumpahkan lewat lagu yang menceritakan tentang kehidupan kaum-kaum jalanan, apakah ini pilihan mereka atau mereka adalah orang-orang pilihan untuk turun ke jalan? Siapa yang dapat mengetahuinya?)

o) Damai? (perang terjadi dimana-mana, kepentingannya berbeda-beda ada yang mau menguasai minyak, ada yang mau memperluas wilayah negara, ada yang mempertahankan kedaulatan negara bahkan ada yang mau merdeka. Tapi sampai kapan semua hal itu dapat berakhir? Kapan semuanya berakhir dengan damai, tanpa ada yang mau menang sendiri.)

o) Serambi mekkah (Aceh bergolak, kepentingan orang dewasa atas aceh menyebabkan ribuan anak-anak aceh harus terkapar di tanah dan kehilangan kehidupannya hanya demi sebuah keserakahan atas wilayah.)

o) Bocah Lapar (Modernisasi terus menusuk di kehidupan manusia, segalanya serba canggih, tetapi dibalik gedung tinggi dibalik kemewahan banyak anak-anak yang terkena wabah busung lapar, ironis sekali bukan?.)


ctt. Ini synopsis lagu yang di rekam oleh the baMBoes. Yang belum direkam masih ada.

Sabtu, 04 Agustus 2007

Ksatria Penjelajah Waktu

Oleh:
Audifax
Penulis buku “Imagining Lara Croft” (2006, Jalasutra) dan “Semiotika Tuhan” (2007, Pinus Book)


Gelap mengendap di mana mata pernah terang

Homer
--Iliad--


Iliad adalah salah satu epos Homerus yang keindahannya melampaui jaman. Epos yang menceritakan perang troya ini tak hanya terus-menerus diceritakan, namun juga sudah beberapa kali difilmkan. Barangkali salah satu adegan tak terlupakan dalam Troy (2004) adalah ketika Hector, pangeran Troya, tegak berdiri di depan pintu gerbang kerajaannya, menjelang saat ia mesti keluar menyambut Achilles, Sang-Singa-di-ambang-pintu. Beberapa langkah di belakang Hector, berdiri orang terakhir yang mengucap selamat tinggal padanya. Bukan Andromache, istrinya. Bukan pula Paris, adiknya, si pengecut yang menyebabkan kakaknya menatap maut dengan menyangga beban seluruh Troya di pundaknya. Orang itu adalah Helena, “Sang Kecantikan yang meluncurkan seribu kapal”.

Mata indah Helena sembab menatap Hector. Saat mengucap selamat tinggal, Helena sempat mengucap:

“Kau menyayangi sesama manusia lebih dari siapapun juga, dan itu semua demi aku, meski aku tak ubahnya seekor anjing betina, buah kekonyolan Aleksandros (nama lain Paris). Zeus telah melimpahkan cobaan paling berat pada kita, namun cobaan ini juga yang akan menjadikan kita puisi pembicaraan orang di masa depan”

Hector tahu ia akan mati dalam pertarungannya dengan Achilles. Demi apa? Perempuan? Kehormatan? Persaudaraan? Tanah Air? Nasionalisme? Tak ada itu semua. Hanya ada dua ksatria bertarung: Hector dan Achilles. Selama pertarungan itu tak ada siapa benar, siapa salah, siapa lebih berhak, siapa lebih berdosa. Distingsi tersebut tak ada; yang ada hanya manusia sebagai mahkluk yang menderita serta ksatria yang bertarung. Mereka memang harus bertarung karena mereka ksatria, bukan pecundang.

Tak ada apa-apa dalam pertarungan ksatria mereka. Penderitaan dan rasa kehilangan telah melucuti Hector. Ia tak punya apa-apa lagi kecuali dirinya. Ia adalah satu di antara putra-putra Priam. Ia berdiri sendiri. Sang pangeran yang lahir untuk memimpin dan menatap ke depan. Ia bukan manusia-istimewa, manusia-aneh, manusia-unggul, setengah-dewa atau menyerupai-tuhan. Ia hanya manusia dan pangeran di antara manusia. Manusia yang menatap melampaui manusianya yang sejatinya fana. Pangeran kehidupan yang sarat kemurahan hati. Banyak yang harus ditanggungnya dalam hidupnya, dan ia tidak lari. Ia adalah kesayangan Apollo. Pelindung Troya. Pembela kota, istri dan anak-anaknya. Hector adalah wali segala suka cita hidup yang bakal lenyap.

Sedangkan Achilles, ia adalah putra Thetis, peri laut. Oleh ‘kekuatan’ ia dijadikan setengah-dewa namun oleh ‘kekerasan’ ia dijadikan setengah-binatang. Perpaduan inilah yang membuat Achilles membumi. Menjelang berangkat ke Troya, Achilles menemui Thetis ibunya. Sang ibu berkata padanya:

Jika kau tinggal di Larissa, kau akan temukan kedamaian. Kau akan menemukan perempuan cantik, memiliki putra dan putri darinya. Istri dan anakmu akan menyayangimu dan mengingat namamu. Tapi ketika anak dan keturunanmu telah mati, namamu juga akan terlupakan…..Jika kau berangkat ke Troya, kejayaan akan menjadi milikmu. Mereka akan terus-menerus menuliskan kisah kemenanganmu selama ribuan tahun! Dan dunia tak akan melupakan namamu. Namun, jika kau berangkat ke Troya, kau tak akan pernah kembali…karena kemuliaanmu bergandeng-tangan dengan maut yang menjemputmu. Dan ibu tak akan pernah melihatmu lagi.

Seperti Neo (dalam Matrix, 1999) yang memilih pil merah, Achilles memilih berangkat ke Troya. Satu perkataan terkenal Achilles pada ibunya (dalam Iliad): “Betapapun cinta ibu padaku, jangan jauhkan aku dari perangku”.

Peperangan sebenarnya adalah kesejatian dari ketakpastian dunia. Peperangan tak mesti secara an sich dipahami sebagai pertempuran ala Troya ataupun Perang Dunia, namun juga peperangan dalam ketakpastian hidup masing-masing. Ketika menginginkan sesuatu, orang mesti berjuang mendapatkannya, tak jarang mesti bertarung dengan orang lain karena keterbatasan kesempatan untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Nah, dalam pertarungan-pertarungan inilah esensi ksatria seperti yang ditunjukkan Hector dan Achilles bisa kita pahami.

Masing-masing manusia bisa menjadi ksatria dalam perangnya masing-masing. Namun, tak tertutup pula kesempatan menjadi pecundang yang lari terbirit-birit dari pertempurannya. Apa sebenarnya pertempuran masing-masing manusia? Untuk menjelaskan ini, saya perlu kembali lagi ke kisah pertarungan Hector dan Achilles. Mereka bertarung, karena arete mereka memang mengharuskan mereka untuk menuju kancah pertarungan itu. Hanya ada diri mereka di situ dan arete mereka

ARETE
Apa itu arete? Arete adalah sebuah kata dalam kosa kata Yunani yang secara sederhana bisa saya terjemahkan sebagai keutamaan. Keutamaan yang bagaimana? Saya akan contohkan dengan sesuatu yang sederhana. Bayangkan sebuah gunting kecil lipat untuk memotong kertas. Gunting itu memiliki arete untuk memotong kertas. Itulah keutamaannya. Apakah tidak bisa untuk memotong rumput atau buka tutup botol? Ya bisa saja kalau dipaksa. Tapi membutuhkan energi lebih jika dipakai untuk memotong rumput atau membuka tutup botol. Energi minimal yang paling sesuai (keutamaan) dari gunting kecil lipat itu adalah memotong kertas atau hal-hal yang masih dalam jangkauan energi minimalnya.

Demikian juga dengan manusia. Orang mungkin heran bagaimana seorang Thomas Alfa Edison melakukan percobaan ribuan kali dan baru pada percobaan kesekian ribu ia bisa menemukan lampu. Tapi itulah arete-nya. Ia menikmati karena di situlah energi minimalnya. Sama dengan arete seorang penulis yang mungkin bisa menulis dengan mudah, ini karena ia memiliki energi minimalnya di situ. Dan di situlah sebenarnya ‘panggilan’ untuk pertempurannya.

Masalah timbul ketika orang tidak mencari arete-nya sendiri, namun berusaha menjadi orang lain. Masalah makin pelik ketika ia gagal menjadi orang lain yang diinginkannya karena memang ia tak memiliki keutamaan seperti orang yang diinginkannya itu. Masalah menjadi makin parah ketika dalam kegagalan itu ia justru menjelekkan orang lain yang sebenarnya diingininya itu. Orang-orang inilah manusia-manusia dekaden yang tak mampu melihat dirinya sendiri dan menanggung apa yang memang mesti ditanggungnya.

POSKRIP
Pada titik inilah kita bisa belajar dari Hector, dari Achilles, yang tak menyalahkan hidup yang mesti ditanggungnya. Manusia-manusia ini tak berani berangkat ke medan perangnya masing-masing dan memilih bersembunyi di kolong tempat tidurnya. Mereka tak berusaha menemukan arete-nya dan berangkat ke medan perangnya sebagai ksatria, namun memilih menjadi pecundang, bersembunyi di kolong tempat tidurnya, sambil menatap iri pada orang lain.

Peperangan yang timbul dari ketakpastian, adalah sebuah transformasi. Menghadapi dan menjalani transformasi itu, memang membutuhkan keksatriaan tersendiri. Keksatriaan ketika berhadapan dengan pilihan-pilihan yang mesti diputuskan. Dalam keputusan itulah tercermin siapa sebenarnya diri kita. It is our choice that show what we truly are, far from our abilities.


© Audifax – 20 Juni 2007

MAY DAY - Peringatan Hari Buruh International”

“Hidup Buruh, hidup anak-anak jalanan..!!”

“Hidup buruh, hidup anak-anak jalanan..”, Teriakan itu dilontarkan Eko (anak jalanan dampingan Yayasan KKSP) ketika hendak menyanyikan lagu didepan Gedung DPRD Provinsi tingkat II sumatera Utara pada acara Long March memperingati MAY DAY – Hari Buruh International, selasa, 1 may’2007 yang lalu.

Sekitar 3.500 massa buruh yang tergabung dalam SBSU (Serikat Buruh Sumatera Utara), SBMI SUMUT (Serikat Buruh Medan Independent Sumatera Utara), dan beberapa aliansi buruh lainnya.
Tuntutan yang disampaikan tidak jauh berbeda dengan massa buruh lainnya yang juga memperingati MAY DAY. Tuntutan tersebut adalah “menaikan gaji buruh 100 %, 8 jam waktu bekerja, 1 mei menjadi hari libur nasional.”

Kegiatan dipusatkan pada titik kumpul bertemu di Lapangan merdeka, lalu Long march ke menuju Simp. Guru Patimpus dan bergerak menuju ke Gedung DPRD provinsi tingkat II Sumatera Utara.
Di depan gedung DPRD, massa diistirahatkan. Waktu istirahat digunakan untuk melakukan Orasi dan panggung hiburan yang diisi oleh Anak-anak jalanan dampingan yayasan KKSP. Eko, Usman, Anto, Yogi, david, Dani, Burhan, Haris menyanyikan lagu-lagu perjuangan seperti Darah Juang, Marsinah (refleksi buruh perempuan), Topi jerami dan Titik Api”. Dengan menggunakan alat-alat sederhana, seperti jimbe rhythm dan jimbe bass ditambah gitar dan cabasa (tamborin) anak-anak Rumah Musik ini bernyanyi dengan semangat.
Setelah bernyanyi, massa disiapkan untuk berangkat menuju ke kantor GUBSU (Gubernur Sumatera Utara). Sambil bernyanyi-nyanyi dan meneriakan yel-yel hidup buruh, buruh bersatu tak bisa dikalahkan, massa mulai merangsek ke kantor GUBSU.
Sesampai di Kantor GUBSU, petugas kepolisian yang berjumlah sekitar 40 orang menjaga ketat. Penjagaan ketat itu tidak menyurutkan semangat kawan-kawan buruh. Lobby-lobby dilakukan, hasilnya orasi dilakukan secara bergantian oleh komandan aksi dari masing-masing organisasi. Setelah melakukan Orasi, serah terima stetment aksi kepada pejabat terkait kantor GUBSU dilakukan. Lalu massa dipersilahkan masuk untuk melanjutkan konvoi menuju Lapangan A.yani.
Pemberhentian dan pembubaran massa dilakukan di Lapangan A.Yani.(aLLey)

Pementasan the bamboes di parade theater - 20 maret 2007

Ceplos dinyanyikan dengan petikan dawai guitar akustik, raungan biola gergaji, dan cabasa yang mengalun smooth

Komunitas musik sampah the baMBoes yang didampingi oleh yayasan KKSP di daulat untuk menembangkan 2-3 lagu handalannya pada hari sabtu/20 maret 2007 di Gedung Pertunjukan Taman Budaya Sumatera Utara pada acara “Parade Theater yang digawangi oleh kawan-kawan muda (siswa-siswa) MAN 2 Model – Medan.
The baMBoes adalah sekelompok anak-anak jalanan yang menuangkan gagasan-gagasan hidup, ekspresi dan perlawanan lewat musik sampah. Musik menjadi pilihan untuk menuangkan gagasan dan penyampaian pesan social. Digawangi oleh Rahmat (16), Eko (22), Anto (22), David (20), Yogi (20), Haris (19), Dani (16), Dedek Canang (16).
Parade Theater yang berthemakan “Kopi SUSU” itu mengajak kita untuk merenungkan tentang fenomena social kita, yang selalu mendiskusikan tentang nasib orang lain dengan suguhan kopi susu, sementara para pendiskusi hanya bisa mendiskusikan.
The baMBoes menyuguhkan lagu yang berjudul “damai” (yang menceritakan tentang bagaimana manusia yang tidak mau mengalah untuk menguasai sebuah wilayah (atas dasar kepentingan pribadi maupun Negara) dan mengakibatkan perang yang berkepanjangan sehingga menimbulkan kerugian harta dan nyawa), lalu baMBoes menuyuguhkan lagu ke dua yaitu berjudul “ceplos” (fenomena jalanan yang keras disuguhkan lewat lagu). Ceplos dinyanyikan dengan petikan dawai guitar akustik, raungan biola gergaji, dan cabasa yang mengalun smooth. Lagu ketiga baMBoes mulai menggoyang penonton dengan lagu “nanam Rame-Rame” yang berisikan tentang bagaimana anak-anak bisa belajar merencanakan kehidupan dari contoh menanam tumbuh-tumbuhan.
Suguhan musik yang sederhana tersebut ternyata bisa dinikmati semua kalangan dari kelas remaja sampai orang tua.
(aLLey)

Pagelaran Musik Anak Jalanan - Rabu - 09 mei 2007

PRSU - Pekan Raya sumatera Utara

6 Kelompok musik anak-anak jalanan dampingan yayasan KKSP (Pusat Pendidikan dan Informasi Hak Anak) mengikuti pagelaran Musik kreatifitas Anak jalanan yang dibuat oleh Dewan Kesenian Medan (DKM). Pagelaran ini diperuntukkan agar anak-anak jalanan memiliki ruang untuk mengekspresikan nilai seninya dan mendapat perhatian dari pemerintah maupun audiens yang memiliki jaringan seni. “Kita gak mau anak-anak hanya menjadi korban oleh orang-orang dewasa, Perda tentang Pembersihan Pedagang Kaki Lima dan Unsur-unsur jalanan kan disiapkan, jika ditangguhkan, anak-anak jalanan mau kemana? Nah, makanya DKM berinisiatif membuat kegiatan ini dengan mengambil moment Pekan Raya Sumatera Utara, mana tau ada yang tertarik, sehingga anak-anak jalanan tidak perlu lagi mengamen, tapi ada tempat dia untuk mengais rezeki..” Ungkap Asmadi salah seorang panitia Pagelaran Musik Anak Jalanan.

Berkisar 24 peserta kelompok musik anak jalanan yang mengikuti pageralan ini. Anak jalanan Simp. Juanda, Terminal Amplas, simp. Titi Kuning, Rumah Musik, Simp. Aksara, jl. Sutama, simp. Garden, Warkop harapan, Terminal Pinang Baris dan KPJ SUMUT (Kelompok Penyanyi Jalanan) Sumatera Utara.
Semua peserta tampil dengan performa biasa yang sering dilihat jalan-jalan ditempat dimana anak-anak jalanan sering bertarung dengan kehidupannya. Gaya pakaian, alat-alat musik, lagu-lagunya semua biasa dan sering dimainkan. Tapi, itu bukan berarti tidak ada yang kreatif. Beberapa kelompok musik ada yang berani memadukan alat musik konvensional seperti biola, keyboard dan harmonica dipadukan dengan gitar akustik dan uku lele. Penampilan variatif dan kreatif ini membuat betah telinga dan mata kita untuk menontonnya.

Anonym Band – komunitas musik yang terdiri dari punkers kota Medan yang sebelumnya juga memiliki band-band sendiri ini ikut menyemarakan pagelaran. Aliansi RUMAHMUSIK ini bernama Anonym berasal dari simp. Titi kuning. Lagu yang mereka bawa adalah “Negara Dunia ke Tiga” karya Marginal band – Jakarta.
The macan – kelompok musik anak jalanan dampingan KKSP yang baru saja terbentuk untuk kepentingan pagelaran ini bersemangat sekali. Personilnya terdiri dari anak-anak jalanan warkop harapan, jl. Pandu dan Simp. Garden. Sebelumnya tergabung di the baMBoes. Lagu yang dibawakan adalah “Di lingkaran Aku Cinta Padamu” Karya iwan Fals.
Jalanan – Komunitas musik yang didampingi oleh Yayasan KKSP dari Terminal Amplas ini juga mengikuti pagelaran musik jalanan dengan kekuatannya yang ada. Lagu yang dibawa adalah “Emak” Karya the baMBoes.
Sintetis band – Komunitas musik yang terdiri anak-anak muda setempat yang bersahabat dengan anak-anak jalanan di Rumah Musik KKSP. Semangat dan kemampuan bermusik ingin dituangkan pada kegiatan tersebut. Lagu yang dibawa adalah “Jangan letih mencintaiku” karya Jikustik.
Bazkyd – komunitas musik yang personilnya tergabung dari anak-anak jalanan yang didampingi Yayasan KKSP berasal terminal amplas, jl. Pandu, Rumah Musik dan Warkop harapan. Lagu yang dibawakan adalah karya steven & Coconut tree.
the baMBoes – komunitas musik sampah ini juga ikut ambil bagian dalam pagelaran. Yayasan KKSP ikut andil dalam proses pembidanan, pelahiran, penguatan dan pengembangan komunitas ini. Dalam pagelaran ini the baMBoes membawakan lagu yang berjudul “HUJAN” karya the baMBoes.

Pentas Hujan.
Setelah baMBoes menyanyikan lagu berjudul Hujan, berselang 5 menit kemudian hujan pun mengguyur panggung. Gak tanggung-tanggung hujan turun, menyebabkan beberapa kelompok musik tidak bermain dengan maksimal. Walaupun kelompok-kelompok musik anak-anak jalanan kota Medan tetap bersemangat mengikuti Pagelaran musik tersebut. 2 jam hujan mengguyur pagelaran yang akhirnya mulai mereda dengan rintik-rintik.

Ticket ke Festival Penyair Internasional
Akhir dari pagelaran, panitia memberikan pengumuman yang luar biasa. Bahwa 3 kelompok musik yang dianggap kreatif dan memiliki syair lagu yang menarik terpilih untuk mengikuti / Mentas Festival Penyair Internasional pada tanggal 25-26-27 Mei’2007 di Taman Budaya Sumatera Utara.
Ke tiga kelompok tersebut adalah the baMBoes, komunitas Juanda dan KPJ SUMUT yang dianggap kelompok musik yang kreatif dan menampilkan performa yang baik ditelinga dan mata para Juri. Dan Juri sendiri berasal dari kalangan seniman Taman Budaya Sumatera Utara.

Ya, kita berharap ini menjadi masukan buat para pejabat-pejabat di pemko Medan, bahwa anak jalanan masih memiliki nilai-nilai positif untuk dapat tumbuh dan berkembang. Masyarakat Medan diharapkan dapat juga merubah pola pikir negative tentang anak-anak jalanan. “Viva la Anak Jalanan”.

Kamis, 02 Agustus 2007

teks lagu - 1

Hujan
By : alley

Intro :

Eeee.. Hujan datang
Airnya berlimpahan kemana-mana
Aku tak bisa keluar rumah
Maklum tak bisa “Sedia payung sebelum hujan”

Eeee.. Hujan datang,
Pohon-pohon menjadi senang
Aku tak bisa menikmati (bekerja) malam..
Apa lagi peruk ku semakin keroncongan..

Hujan datang,
Air sungai meluap
Aku takut juga bimbang
Banjir lagi – banjir lagi

Intro :

Woooii.. Hujan datang
Udara menjadi lembab dan dingin
Aku terasa menggigil setengah mati
Maklum nggak ada baju hangat

Yah.. hujan datang..

Hujan datang
Air sungai meluap
Aku takut juga bimbang
(mungkin) Banjir lagi – banjir lagi..

personel

Personel

the baMBoes memiliki banyak personil, kesemuanya adalah anak-anak jalanan yang didampingi oleh yayasan KKSP (sebuah LSM yang konsern terhadap pendidikan anak yang termarginalkan).
Dengan konsep seperti cinta, orang-orang bebas datang dan pergi. Model kekeluargaan yang dibangun menciptakan keunikan sendiri. Yang pergi tetap akan mengingat dan pasti akan kembali, sedangkan yang masih eksis smakin menelurkan gagasan-gagasan baru untuk mencapai sebuah perubahan yang diinginkan.
Komunitas ini memiliki personil yang lintas usia, dari berusia 8 tahun sampai dengan 28 tahun. Juga personilnya memiliki beragam profesi kerja, ada yang mengamen dipersimpangan dan dicafe-cafe, mengemis dipersimpangan, pekerja LSM, wirausaha dan lain-lain.

Nama-nama Personil (sekarang - Agustus 2007)
1. Rahmad syah lubis berperan memainkan lead guitar (akustik), berusia 18 tahun dan berprofesi sebagai pengamen dan penyablon baju.
2. Yogi Sutrisno berperan memainkan perkusi bass seperti Jimbe bass dll, berusia 21 tahun dan berprofesi sebagai pengamen dan juga pengrajin handy craft seprti gelang, kalung dll.
3. Dani syah putra berperan memainkan rhtym guitar (akustik), berusia 17 tahun dan berprofesi sebagai pengamen dan pengrajin bingkai photo dari kardus (maupun kertas tak berguna).
4. Eko Unedo Alberto Manurung berperan memainkan gamelan botol vodka, harmonica, kaleng-kaleng, berusia 24 tahun dan berprofesi sebagai pengamen dan salah satu konseptor di komunitas PUNK Medan.
5. David ade pandiangan berperan memainkan perkusi (tom-tom rusak) dan biola gergaji, berusia 20 tahun, berprofesi sebagai asongan rokok.
6. Leo Bonardo berperan memainkan perkusi (aqua galloon), berusia 22 tahun dan berprofesi sebagai tukang juru parkir dilahan basah dan rawan pertarungan antar pemuda.
7. Usman Jalani berperan memainkan perkusi (ember, tong dll), berusia 22 tahun dan berprofesi sebagai tukang jual keping film DVD.
8. Ade' centil berperan menyanyikan keluh kesah, senang, cinta, marah, pembebesan dll, berusia 18 tahun dan berprofesi pelajar yang aktif ikut les drum, les bahasa inggris, mengaji dll.
9. Ranto Alamsyah Situmorang berperan memainkan perkusi (rhtym jimbe), berusia 22 tahun dan berprofesi sebagai pengamen.
10. Ganda Situmorang berperan memainkan Tamborin, berusia 18 tahun dan berprofesi sebagai pengamen.
11. Pidenanto Nduru berperan memainkan kentongan bambu, berusia 9 tahun dan berprofesi sebagai pengemis.
12. Rudi berperan memainkan perkusi kecil (kaleng-kaleng, besi-besi dll), berusia 11 tahun dan berprofesi sebagai pengemis.
13. Dedek Canang membantu si ade' bernyanyi, berusia 18 tahun dan berprofesi sebagai pengamen.
14. Biar berperan sebagai penasehat di komunitas ini, berusia 29 tahun dan berprofesi sebagai aktifis LSM untuk anak-anak di Meulaboh - Aceh Barat.
15. alley berperan sebagai penasehat sekaligus koordinator di komunitas ini, berusia 28 tahun dan berprofesi sebagai aktifis LSM untuk anak-anak jalanan di kota Medan - Sumatera Utara.