- Komunitas Musik Sampah Anak Jalanan
Ide dasar.
Bamboes di ambil dari kata bambu yang ditafsirkan sebagai tumbuhan multi fungsi, selain itu tumbuh di mana saja dan selalu bergerombol. Untuk itu bambu di umpamakan adalah anak-anak Indonesia khususnya anak-anak yang termarjinalkan (terpinggirkan) memiliki potensi berani, jujur, pekerja keras, kreatif dan inovatif. Hidup bergerombol adalah budaya sosial manusia, sudah tentu terjadi di dunia anak-anak. Walaupun kehidupan sosial bergerombol, tetap saja yang dialami dan dinikmati tidak berbeda. Untuk itu baMBoes membangun solidaritas tak terbatas untuk dapat menyatukan kehidupan yang bergerombol, setidaknya pola hidup setara dan tidak dibeda-bedakan dan tidak membeda-bedakan.
Deklarasi
Di deklarasikan di taman bunga stadion Teladan – Medan, pada tanggal 23 Juli 1995, tepat seusai pementasan perdana anak-anak jalanan dampingan Yayasan KKSP (sebuah LSM yang konsern terhadap pendidikan anak-anak yang termarginalkan ) dan anak-anak remaja mesjid jl. Pimpong kel. Pasar Merah Barat di Gedung Wanita Karo -. Deklaratornya adalah Alley atmawidjaya (alley), Armansyah Putra Barus (BIAR), Alm.Muslim Panjaitan (alm, Boy Dzakirov), Ronald, Rudi Supriono (rudi gondrong), Roni Manalu, Fefry Amrianto (piye).
Music
BaMBoes tetap konsern menggunakan musik sebagai media kampanye untuk menyuarakan celoteh-celoteh sosial, khususnya celoteh-celoteh tentang kehidupan social anak. Musicnya beraliran apa saja, genre satu musik tidak terlalu dipusingkan. Saat ini ciri musiknya lebih cendrung kepada balada akustik dan yang terpenting dari bermusik tersebut adalah asal pesan-pesan social dan moralnya nyampe.
Alat music
Alatnya adalah benda-benda sederhana dan gampang untuk dapat di temukan baik di jalanan, di rumah, di sungai-sungai bahkan di tempat pembuangan sampah. Alat-alat eksperiment tersebut digabungkan dengan beberapa alat musik konvensional untuk dapat menyelaraskan ritme musik yang harmonis dan dinamis.
Syair
Syairnya menyentuh dari kejenuhan hidup di kota, geram pada peperangan, sedih atas ketidak adilan hukum, marah pada orang tua yang tidak serius mengurus anaknya sendiri, benci pada budaya timur yang mulai berganti pada budaya serba barat, teriris ketika mengetahui anak-anak menjadi korban perang dan korban kebiadaban para penjual anak untuk kepentingan dan kepuasan orang dewasa, pesimis melihat ruang publik yang tidak partisipatif terhadap anak-anak, tak bisa apa-apa untuk bisa mengenyam pendidikan karena biaya pendidikan begitu mahalnya, senang karena bisa belajar merencanakan kehidupan, bahagia dapat belajar dari alam raya, terpingkal-pingkal melihat tingkah laku dedek canang (tokoh dalam lagu), bebas dapat menghirup alam pedesaan.
Kesemua itu tercipta dari apa yang dirasakan, apa yang dilihat dan apa yang di dengar.
Personil.
Sekarang (1998 – 2005) terdiri dari anak-anak jalanan dengan jumlah yang tidak terbatas. Hari ini bisa berjumlah 12 orang, besok-besok bisa berjumlah 5 orang. Bamboes seperti cinta, “datang dan pergi sesuka hati dengan mengikuti ruang dan waktu”. Formasi the baMBoes saat ini adalah;
1. Rahmat syah lubis (Ame’ kibo) memaenkan lead gitar melody, backing vocal.
2. Dani syah Putra (lepes) memaenkan gitar rhythm, backing vocal.
3. David Ade Pandiangan (david kribo) memaenkan perkusi drum pecah, biola gergaji, backing vocal.
4. Leo Bonardo (Leo) memaenkan perkusi aqua gallon
5. Eko Alberto Manurung memaenkan harmonica, gamelan botol vodka, perkusi kecil (kaleng-6. kaleng dll)
7. Yogi Sutrisno (yogi) memaenkan perkusi bass jimbe
8. Armansyah Putra Barus memaenkan alat tiup; seruling, saluang, decap-decap plastic, backing vocal.
9. Ranto Alamsyah Situmorang memaenkan perkusi jimbe rhythm, backing vocal.
10. alley atmawidjaya (alley) memaenkan gitar, besi-besi, dan menyanyi
11. Usman Jalani Tanjung (grogol) memaenkan tamborin dan kaleng-kaleng.
12. Lesman simbolon memaenkan cabasa beras.
Additional players (dijadikan pemain tambahan karena terkadang berada bersama kita – the baMBoes -, terkadang tak terlihat batang hidungnya).
1. Ade (adek tomboy) – menyanyi
2. Putra chaniago (putra) – maen gitar sama menyanyi
3. Irwan azhari (iwan tungir)– menyanyi
4. Deni syahputra (deni) – memaenkan perkusi
5. Ganda (ganda) - maen cabasa beras
6. Dedek suryadi (dedek canang) – memaenkan perkusi.
Pementasan dan Penghargaan
Untuk pementasan, baMBoes tidak pernah mengeksklusifkan dirinya, bisa mentas di mana saja selama pementasan tersebut dapat menyampaikan pesan-pesan sosial yang sudah mendarah daging ditubuhnya. Dimanapun bamboes melakukan pementasan disitulah sebenarnya penghargaan yang dirasakan.
the baMBoes mendapatkan penghargaan-penghargaan berupa piagam (sertifikat) dari beberapa pementasan yang dilakukan seperti : - Pekan kreatifitas Anak Teraniaya – 15 s/d 19 Juli 2000, Banda Aceh
- Penghargaan Gubernur Sumatera Utara, T. Rizal Nurdin pada Pelaksanaan Gelar Teknologi Tepat Guna Nasional ke IV & Lomba Karya Inovasi teknologi (INOTEK), 24 s/d 28 September 2002, Medan – Sumatera Utara.
- Satgas Brigade Kartini DPD AMPI Tingkat II – Kota Medan, pada lomba busana kartini dan musikalisasi Kreatifitas Anak Jalanan, 18 s/d 20 April 2003.
- Himpunan Mahasiswa Mesin – BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Fakultas tekhnik UMSU –26 April 2003 Juara Favorite pada GEBYAR MUSIK di Medan.
- Pemerintah Daerah Sumatera Utara – Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Sumatera Utara (BAPELDASU) dalam Lomba lagu-lagu lingkungan hidup, 26 November 2004 di Gedung Pertunjukan Pekan Raya Sumatera Utara, Medan.
- Yayasan KKSP dalam memeriahkan Ulang Tahunnya yang ke 20 tahun, 7 Februari 2007. di Gedung Auditorium USU- Medan.
- Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik USU, dalam seminar “Fenomena Gelandangan – Pengemis di Tengah Kota Medan Menuju Metropolitan”, 8 mei 2007 di Lab. Pariwisata USU, Medan.
- ULTAH Surat Kabar PORTIBI
- 10. Dies Natalist FISIP USU
Pementasan-pementasan bamboes tidak hanya berada dikepulauan sumatera, tetapi juga sudah merambah ke Pulau jawa khususnya Yogyakarta pada acara workshop jambore musik rakyat merdeka.
Karya dan first album
the baMboes melakukan track record untuk album perdana yang bertajuk “Suara – Suara Merdeka” dan sekarang masih dalam proses mixing di Canada. Rencananya akan di pasarkan di Canada dan Indonesia.
Lagu dan Makna
o) Nanam Rame-rame (mengajak manusia di bumi ini untuk menanam tumbuhan agar tidak terjadi pemanasan Global, dan filosofi lagu ini mengajari anak-anak untuk merencanakan kehidupannya lewat penanaman tumbuh-tumbuhan).
o) Hujan (menceritakan tentang rendahnya kepedulian pemerintah terhadap kampung-kampung kumuh yang rawan banjir juga penanganan banjir di jalan raya juga yang tidak serius)
o) Alam Desa (Kejenuhan setiap hari memandang kenderaan yang berlalu lalang, selalu bertarung dengan kekejaman kota dapat terobati dengan berjalan-jalan ke pedesaan, terasa lebih segar, sejuk, damai satu yang terpenting makanan banyak)
o) Ceplos (sesak didada tak dapat di tahan melihat fenomena jalanan, akhirnya di tumpahkan lewat lagu yang menceritakan tentang kehidupan kaum-kaum jalanan, apakah ini pilihan mereka atau mereka adalah orang-orang pilihan untuk turun ke jalan? Siapa yang dapat mengetahuinya?)
o) Damai? (perang terjadi dimana-mana, kepentingannya berbeda-beda ada yang mau menguasai minyak, ada yang mau memperluas wilayah negara, ada yang mempertahankan kedaulatan negara bahkan ada yang mau merdeka. Tapi sampai kapan semua hal itu dapat berakhir? Kapan semuanya berakhir dengan damai, tanpa ada yang mau menang sendiri.)
o) Serambi mekkah (Aceh bergolak, kepentingan orang dewasa atas aceh menyebabkan ribuan anak-anak aceh harus terkapar di tanah dan kehilangan kehidupannya hanya demi sebuah keserakahan atas wilayah.)
o) Bocah Lapar (Modernisasi terus menusuk di kehidupan manusia, segalanya serba canggih, tetapi dibalik gedung tinggi dibalik kemewahan banyak anak-anak yang terkena wabah busung lapar, ironis sekali bukan?.)
ctt. Ini synopsis lagu yang di rekam oleh the baMBoes. Yang belum direkam masih ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar