Sabtu, 04 Agustus 2007

Pementasan the bamboes di parade theater - 20 maret 2007

Ceplos dinyanyikan dengan petikan dawai guitar akustik, raungan biola gergaji, dan cabasa yang mengalun smooth

Komunitas musik sampah the baMBoes yang didampingi oleh yayasan KKSP di daulat untuk menembangkan 2-3 lagu handalannya pada hari sabtu/20 maret 2007 di Gedung Pertunjukan Taman Budaya Sumatera Utara pada acara “Parade Theater yang digawangi oleh kawan-kawan muda (siswa-siswa) MAN 2 Model – Medan.
The baMBoes adalah sekelompok anak-anak jalanan yang menuangkan gagasan-gagasan hidup, ekspresi dan perlawanan lewat musik sampah. Musik menjadi pilihan untuk menuangkan gagasan dan penyampaian pesan social. Digawangi oleh Rahmat (16), Eko (22), Anto (22), David (20), Yogi (20), Haris (19), Dani (16), Dedek Canang (16).
Parade Theater yang berthemakan “Kopi SUSU” itu mengajak kita untuk merenungkan tentang fenomena social kita, yang selalu mendiskusikan tentang nasib orang lain dengan suguhan kopi susu, sementara para pendiskusi hanya bisa mendiskusikan.
The baMBoes menyuguhkan lagu yang berjudul “damai” (yang menceritakan tentang bagaimana manusia yang tidak mau mengalah untuk menguasai sebuah wilayah (atas dasar kepentingan pribadi maupun Negara) dan mengakibatkan perang yang berkepanjangan sehingga menimbulkan kerugian harta dan nyawa), lalu baMBoes menuyuguhkan lagu ke dua yaitu berjudul “ceplos” (fenomena jalanan yang keras disuguhkan lewat lagu). Ceplos dinyanyikan dengan petikan dawai guitar akustik, raungan biola gergaji, dan cabasa yang mengalun smooth. Lagu ketiga baMBoes mulai menggoyang penonton dengan lagu “nanam Rame-Rame” yang berisikan tentang bagaimana anak-anak bisa belajar merencanakan kehidupan dari contoh menanam tumbuh-tumbuhan.
Suguhan musik yang sederhana tersebut ternyata bisa dinikmati semua kalangan dari kelas remaja sampai orang tua.
(aLLey)

Tidak ada komentar: